Author : Echa
(@Echatiwi3_)
Genre : Relationship, Family
Cast : Christy, Helen, Fani, Dea, Rizki, dll.
“Belajarlah
dari masa lalu, hidup untuk sekarang & berharap dimasa depan’’
Aku terlahir dari
keluarga sederhana, dan aku adalah anak semata wayang dikeluargaku.
Mungkin aku berbeda dari yang lain. Karna kehidupanku tidak sama
dengan anak-anak seusiaku pada umumnya. Christika Dhiaputri Ramadhan,
itulah namaku. Keluargaku biasa memanggilku Christy.
Sejak kecil aku tinggal
bersama nenekku. Karna semenjak melahirkanku, ibu telah dipanggil
oleh Sang Maha Pencipta. Aku sangat merindukan sosok seorang ibu
didalam hidupku, namun itu semua telah aku dapatkan didalam diri
nenekku. Aku jarang sekali melihat ayahku, karna beliau bekerja
diluar kota, dan aku dapat bertemu dengan ayahku setiap sebulan
sekali.
Mungkin jika aku melihat
kehidupan anak-anak diluar sana, aku merasa sangat iri dengan mereka.
Mereka dapat berkumpul dengan keluarganya & dapat melihat ayah
dan ibunya setiap hari. Sedangkan aku, ibuku telah lama meninggal dan
ayah sibuk membanting tulang untuk memenuhi kehidupanku sehari-hari.
Saat ini aku duduk
dibangku SMA, lebih tepatnya kelas XII. Disekolah aku memiliki
beberapa sahabat diantaranya:
- Helena Hadiningrat (Helen)
Dia
adalah sahabatku yang selalu mendengarkan isi hatiku. Namun semenjak
dia mempunyai pacar, dia jarang sekali berkumpul dengan
sahabat-sahabatnya, mungkin bisa dikatakan lebih cenderung ke
pacarnya daripada sahabatnya.
- Stefani Raisa (Fani)
Diantara
beberapa sahabatku, dialah yang paling cantik. Namun semenjak menjadi
ketua OSIS, dia agak sombong terhadap sahabat-sahabatnya.
- Valerina Deasinta (Dea)
Dia
adalah sahabatku yang paling pintar. Dan dia selalu menjadi the best
dikelasku. Dan dialah yang sejak kelas X telah menjadi sahabat
terbaikku hingga saat ini.
- Rizkia Rahadian (Rizki)
Dia
selalu di bullying oleh kami berempat. Namun dia tetap setia terhadap
kami. Dan dia adalah sahabat kami yang selalu galau.
Disekolah, aku menyukai
teman seangkatan yang sama-sama anak IPA. Stefanus Sinatrya, itulah
namanya. Teman-temannya biasa memanggilnya Efan. Aku dan Efan memang
telah lama kenal dan boleh dibilang telah akrab. Aku selalu curhat
mengenai Efan kepada Dea. Karna aku sangat mempercayai Dea &
lagipula Dea sahabat terbaikku.
‘’Christy, kamu
bener-bener suka ya sama Efan?’’ kata Dea.
‘’Iya, emang kenapa
sih Dea? Kan kamu tau sendiri kalo aku suka sama Efan tu uda lama.’’
Jawabku.
‘’Iya sih, kalo itu
aku juga uda tau.’’
‘’Terus kenapa coba,
kok tiba-tiba kamu tanya kayak gitu De?’’
‘’Haduhh gimana ya
Chris, aku mau bilang sesuatu ke kamu, tapi aku gak enak sama
dirimu.’’
‘’Bilang aja, gausah
malu-malu, biasanya kamu kan malu-maluin hehe.’’
‘’Ciyus, enelan,
miapah?’’
‘’Hmm, Dea mulai deh
lebainya. Ayo buruan cerita, aku makin penasaran nih.’’
Dan tak lama kemudian,
Dea bercerita mengenai Efan.
‘’Chris, sebelumnya
aku minta maaf sama kamu & aku harap kamu gak marah sama aku.’’
‘’Emang kenapa sih
De, kok pake acara minta maaf segala, ini kan belum lebaran, masa uda
maaf-maafan sih hehe.’’
‘’Christy, aku tu
lagi serius.’’
‘’Oke, silahkan
dilanjut ceritanya.’’
‘’Jadi gini Chris,
kemarin malem Efan tu kerumahku dan gak taunya dia nembak aku.’’
‘’APAAAAA??????????
Bilang ke aku De, kalo kamu itu lagi becanda kan?’’
‘’Enggak Christy, aku
serius. Kalo enggak percaya, aku akan telfon Efan sekarang.’’
Tanpa menunggu lama, Dea
telah menghubungi Efan. Dan beberapa detik kemudian, Efan telah
mengangkat telfonnya.
‘’Efan, kamu lagi
dimana?’’ tanya Dea melalui telepon genggamnya.
‘’Lagi dihatimu
sayang.’’ Rayuan gombalnya Efan pun keluar.
‘’Yauda sayang,
telfonnya nanti aja ya, soalnya aku gak enak sama Christy.’’
‘’Oke gapapa, I miss
you sayangku.’’
‘’Miss you too.’’
Saat mendengarkan
percakapan Dea dan Efan di telepon genggam, dalam hatiku aku merasa
sangat sakit. Ingin rasanya aku menanggis, namun air mataku tak dapat
menetes. Dan akupun ingin berteriak sekencang-kencangnya. Aku tak
habis pikir, ternyata sahabat terbaikku sendiri bisa-bisanya
menusukku dari belakang.
‘’Sekarang kamu uda
percaya kan, Chris?’’ tanya Dea terhadapku.
‘’Ya, I believe Dea.
Congratulation ya De, and longlast ya.’’ jawabku sambil
tersenyum.
Dan setelah itu, Dea pun
pergi meninggalkanku sendirian disini. Dan semenjak saat itu,
hubunganku dengan Dea boleh dikatakan tak sebaik seperti dulu. Karna
semakin hari, setiap lewat didepanku dia selalu menjadi-jadi atau
lebih tepatnya dia memanasiku. Aku sadar, aku hanya manusia biasa
yang tak punya apa-apa. Dan aku tau dia lebih cantik dan lebih
pintar dariku, tapi kenapa setiap aku memiliki sesuatu, dia secara
halus merebutnya dariku. Dan sejak aku mengetahui jika kini Efan
telah menjadi miliknya, aku berusaha untuk rela dan mencoba melupakan
Efan dari hati dan hidupku. Aku percaya bahwa Tuhan tidak tidur, dan
semoga Tuhan membalas perlakuan Dea terhadapku, amin.
4 bulan
kemudian...
Ujian Nasional pun telah
aku lalui, dan sekarang hanya tinggal berdoa supaya lulus dan
mendapatkan nilai yang memuaskan agar mendapatkan beasiswa di
Universitas yang aku impikan.
Dua minggu
kemudian...
Disaat menunggu hasil
UN, aku tak pernah ketinggalan untuk mencari beasiswa melalui online.
Dan alhamdulillah, aku diterima disalah satu Universitas Ternama di
kota Yogyakarta yaitu di Universitas Gajahmada (UGM). Alasanku
memilih kota Yogyakarta adalah karna aku ingin meninggalkan kota
Bandung dan ingin melupakan kejadian yang terjadi diantara aku dengan
Dea. Selain itu, kota Yogyakarta terkenal dengan kota pelajar.
Detik-detik
kelulusan...
Bu Anastasya adalah wali
kelasku. Beliau memberitahukan kepada kami bahwa kelulusan akan
diumumkan jam 14.00 WIB. Dan disaat menunggu hasil kelulusan, aku dan
teman sekelasku merasa deg-degan dengan pengumuman nanti.
‘’Christy, kok kamu
santai banget sih, gak kayak kita-kita yang ketakutan gara-gara
pengumuman nanti siang?’’ tanya seorang temanku.
‘’Aku sama kayak
kalian kok, aku juga sebenarnya takut. Tapi aku percaya kok, pasti
satu sekolah ini lulus semua.’’ Sahutku.
‘’Amiiiiiinnnnnnnnn’’
seluruh teman-temanku mengaminiku doaku.
‘’Oh ya Chris,
setelah lulus kamu mau kemana?’’
‘’Aku nglanjutin
kuliah di Yogyakarta.’’
‘’Yogyakarta Chris?
Jauh amat? Kenapa gak di Bandung aja, kan bisa ketemu dengan
kita-kita?’’
‘’Bener tu Chris.’’
‘’Iya sih, tapi
gimana lagi. Aku uda terlanjur diterima disana. Tapi tenang aja, kita
kan masih bisa komunikasi lewat hp maupun media sosial.’’
‘’Emang kamu kuliah
di Universitas mana Chris?’’
‘’Bukannya gak mau
ngasih tau ke kalian, tapi identitasku aku sembunyiin, maafin aku ya
guys.’’
‘’Yahh Christy, kok
gitu sih?’’
‘’Maaf ya guys.’’
Tiba-tiba bu Anastasya
masuk ke kelas kami dengan membawa beberapa amplop yang mungkin itu
adalah surat kelulusan kami.
‘’Baiklah anak-anak,
ibu harap kalian bisa mengosongkan kelas ini, karna kelas ini akan
dipake untuk rapat dan membagikan hasil kelulusan ke orangtua
kalian.’’
‘’Baik bu.’’
Sahut kami sekelas.
Saat itu, yang hadir
disekolah adalah ayahku. Ayahku jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk
mengambilkan hasil kelulusanku. Dan disaat beberapa orangtua temanku
sudah keluar, jantungku berdetak sangat kencang, apalagi ketika
ayahku keluar dari kelas dan membawa sebuah amplop putih dengan
ekspresi wajah yang tidak seperti biasanya.
‘’Ayah, gimana
hasilnya, aku lulus gak yah?’’ tanyaku penasaran.
‘’Maafin ayah,
Christy. Kamu dinyatakan gak lulus.’’ Jawab ayahku.
‘’APAAA??? OH
NO!!!!’’ aku pun sangat terkejut dan seketika menanggis.
‘’Christy, kenapa
kamu menanggis?’’ tanya ayahku.
‘’Christy malu yah,
Christy uda belajar dengan giat tapi Christy malah gak lulus.’’
Jawabku sambil menitikkan air mata.
‘’Cupcupcup, uda
Christy jangan nanggis lagi, malu dilihatin teman-temanmu.’’
‘’Biarin yah, Christy
malu sama ayah dan diri Christy sendiri.’’
‘’Kenapa mesti malu?
Ayah malah bangga sama kamu Christy.’’ Jawab ayahku sambil
tersenyum.
‘’Maksud ayah
gimana?’’ tanyaku keheranan.
‘’ hahahaha, ayah itu
bohong ke kamu Christy. Ayah ingin lihat ekspresi anak kesayangan
ayah yang tau kalo dirinya gak lulus.’’
‘’Ya ampun ayah jahat
banget sih. Christy syok banget tau gak sih yah.’’ Jawabku sambil
manyun.’’
‘’Maaf sayang, ayah
becanda. Congratulation ya putri ayah yang cantik.’’
‘’Emang nilai Christy
kayak apa sih yah?’’
Ayah pun menyodorkan
amplop putih yang dibawanya kepadaku. Dan aku pun langsung
membukanya, dan untuk kedua kalinya aku syok melihat nilai ujianku.’’
‘’Gimana Christy
nilainya?’’
‘’Ini beneran punya
Christy yah?’’ tanyaku yang tak percaya.
‘’Iya, ayah
benar-benar bangga dengan kamu Christy. Kapan kamu akan berangkat ke
Yogyakarta?’’
‘’Kalo bisa
secepatnya yah, soalnya Christy uda gak sabar pengen cepet-cepet
kesana.’’
‘’Yauda kalo gitu
kita pulang sekarang, nenek sudah menunggu dirumah daritadi.’’
‘’Baik ayah.’’
Malam harinya...
Selesai makan malam
bersama ayah dan nenek, tiba-tiba hp ku bunyi. Ternyata, Fani
meneleponku.
‘’Hallo, Christy?’’
‘’Iya, Fan. Kenapa?’’
‘’Gimana tadi, lulus
gak?’’
‘’Alhamdulillah lulus
Fan, kamu sendiri gimana Fan?’’
‘’Aku juga lulus kok
Chris. Eh Christy aku boleh curhat sama kamu gak?’’
‘’Ya boleh dong Fan,
silahkan.’’
‘’Kasihan nasib
sahabat-sahabat kita seperti Helen, Rizki, dan Dea.’’
‘’Emang kenapa dengan
mereka? Bukannya mereka kan lulus, Fan?’’
‘’Iya Christy, tapi
nilainya minim banget. Apalagi si Helen dan Dea, mereka nyaris gak
lulus gara-gara kebanyakan pacaran. Dan Rizki, dia belajarnya kebut
semalaman, jadi hasilnya gak memuaskan.’’
‘’Ya ampun kasihan
banget mereka. Terus kamu mau nglanjutin kuliah dimana, Fan?’’
tanyaku.
‘’Kayaknya aku gak
nglanjutin Chris, aku ingin kerja aja. Dan Helen sama Dea juga sama
kayak aku. Kalo Rizki, dia kuliah di bidang perawat. Lha kamu gimana
Chris?’’
‘’Insya allah aku
nglanjutin kuliah, Fan?’’
‘’Yang jelas
diBandung kan Chris?’’
‘’Iya.’’
‘’Yauda Chris,
telfonnya udahan dulu ya. Aku mau bantuin ortu dulu. See you next
time Christy.’’
‘’See you, Fani.’’
Setelah menerima telepon
dari Fani, aku menyadari bahwa ternyata Tuhan mendengarkan doaku.
2 minggu
kemudian...
Setelah semuanya selesai,
akhirnya aku bisa berangkat ke Yogyakarta. Sesampainya disana
(Yogyakarta), aku mencari tempat kost untuk tempat beristirahatku
selama kuliah disana. Dan ternyata benar, kalo jodoh itu gak kemana.
Tanpa disangka, ternyata Efan kuliah juga di UGM. Dan dia nyaris satu
jurusan denganku. Dan tempat kost nya juga tak jauh dari tempat kost
ku.
‘’Christy, kamu
Christy kan yang dulu sekolah di SMAN 6 Bandung?’’
‘’Iya, kamu kok tau
namaku sih?’’ jawabku yang pura-pura gak mengenali Efan.
‘’Kamu lupa atau
gimana sih Chris, ini aku Efan anak SMAN 6 Bandung.’’
‘’Efan? Iya aku
inget, Efan cowoknya Dea kan?’’
‘’Mantan Chris.’’
‘’Oops, sorry. Aku
kira kamu masih pacaran sama Dea.’’
‘’Uda lama putus kok
Chris, lagian aku juga gak suka sama Dea.’’
‘’Terus kenapa kamu
pacarin?’’
‘’Aku kasihan sama
dia.’’
‘’Ohhh.’’ Jawabku
singkat.
‘’Christy, aku boleh
jujur sama kamu gak? Tapi janji ya, jangan marah?’’
‘’Oke, janji gak
marah deh Fan.’’
‘’Jujur aja ya Chris,
sebenernya aku tu suka sama kamu sejak awal SMA. Tapi aku takut kalo
kamu menolakku, secara kamu kan kutu buku.’’
‘’Hmmm, kenapa gak
bilang dari dulu? Pake acara pacarin sahabatku segala lagi.’’
‘’Kan tadi aku uda
bilang. Gimana Chris, kamu mau gak?’’
‘’Kamu gak becanda
kan?’’
‘’Ya enggaklah
Christy, aku serius.’’
‘’Jawab sekarang
nih?’’
‘’Gak, tahun depan!
Ya sekaranglah.’’
‘’hahaha, gitu aja
Efan uda ngambek. Oke, aku terima kamu.’’
‘’Beneran?’’
‘’Iya lah, masa
bohongan sih.’’
‘’Makasih ya
Christy.’’
‘’Iya sama-sama
Efan.’’
Dan inilah akhir dari
hidupku yang aku lalui dengan kesabaran dan ketabahan. Dan cinta yang
selama ini ku nanti, kini telah menyatu menjadi satu. Dan Impianku
untuk mendapatkan beasiswa pun tercapai, karena motivasi yang ayah
dan nenek berikan untukku. Sekali lagi aku berterima kasih kepada
kalian semua, untuk Tuhan, keluargaku, beserta sahabat-sahabatku yang
selalu ada disaat suka maupun duka.
THE END
Nah, gimana ceritanya guys? Mian, jika ada kata-kata yang salah. Dan cerita ini hanya fiktif belaka.
Seperti biasanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya guys ?
Gomawo ^-^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar